Share
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Transformasi Ekonomi Digital Terkendala Gap Infrastruktur

Jakarta, CNN Indonesia — Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) mengatakan lima tahun ke depan merupakan periode krusial bagi transformasi ekonomi digital. Pemerintah harus memanfaatkan momentum tersebut jika tidak ingin tertinggal dari perkembangan di negara lain.

Ketua Wantimpres Sri Adiningsih mengatakan hampir semua negara berkembang tengah mengembangkan ekonomi digital. Dengan kompetisi itu, maka seluruh komponen di Indonesia harus kerja keras sehingga tidak tertinggal.

“Kalau tidak nanti kita akan menjadi pasar, penonton bahkan akan menjadi korban perkembangan digital yang terjadi pesat,” katanya, Kamis (22/8).

Menolak disebut menebar kekhawatiran, ia bilang pernyataan itu didasari fakta bahwa terdapat arus perdagangan bebas yang memungkinkan perdagangan lintas negara. Hadirnya teknologi digital, meningkatkan potensi perdagangan lintas negara tersebut.

Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia masih menghadapi kendala ketimpangan, baik dari sisi infrastruktur, listrik, internet, dan logistik yang notabene mendukung ekonomi digital. Menurut dia, faktor-faktor tersebut menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi dalam lima tahun ini.

“Saya yakin kalau kita kerja bersama maka kita bisa menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara,” tuturnya.

Sebetulnya, kata dia, ekonomi digital Indonesia sangat potensial. Terbukti di Indonesia memiliki start up dengan status unicorn atau perusahaan privat yang telah mengantongi valuasi lebih dari US$1 miliar. Perusahaan e-commerce unicorn itu meliputi Tokopedia, Bukalapak, dan Gojek.

Selain itu, Indonesia berhasil mencatat nilai transaksi e-commerce yang fantastis. Itu berarti, pasar e-commerce di Indonesia sangat menjanjikan. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dalam menyikapi transformasi ekonomi berbasis digital bisa meningkatkan pemerataan, bukan sebaliknya.
“Jangan sampai malah meningkatkan ketimpangan,” ujarnya.

Ia memaparkan dalam bukunya ‘Transformasi Ekonomi Berbasis Digital di Indonesia’ bahwa nilai transaksi (gross merchandise value/GMV) e-commerce negara Asia Tenggara mencapai US$23,2 miliar setara Rp335 triliun pada 2018 berdasarkan riset Google Temasek.

Jumlah tersebut diprediksi meningkat menjadi US$102 miliar setara Rp1.469 triliun pada 2025.

Masih dari sumber yang sama, Indonesia memimpin transaksi e-commerce di kawasan Asia Tenggara dengan nilai sebesar US$12,2 miliar di 2018 dan diprediksi tumbuh menjadi US$53 miliar pada 2025. Sementara itu, Vietnam diprediksi menjadi negara dengan transaksi e-commerce terbesar kedua setelah Indonesia di Asia Tenggara pada 2025.

sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190822180324-532-423868/transformasi-ekonomi-digital-terkendala-gap-infrastruktur